Terdapat 5 level kreativitas, yaitu Existensial, Communicational, Instrumental, Orientational, dan Innovational. Masing-masing mahasiswa bisa saja berada pada level yang berbeda-beda. Misalnya saja opportunity dalam level Communicational adalah kreasi mahasiswa dalam bidang telekomunikasi dan juga IT. Manusia sebagai makhluk sosial pasti selalu berkomunikasi antara satu sama lain dan dapat dipastikan metode komunikasi manusia akan semakin berkembang dari waktu ke waktu. Masih ingat kah zaman dahulu manusia berkomunikasi melalui pager baru beberapa tahun kemudian diluncurkan handphone yang bentuknya masih seperti batu bata dengan harga yang sangat mahal. Aplikasi-aplikasi seperti skype, whatsapp, YM, MSN, terus berkembang guna mempermudah komunikasi antar manusia.  Sedangkan untuk inovasi sendiri, terdapat 4 level inovasi, yaitu inovasi teknologi, inovasi proses, inovasi produk/jasa, dan inovasi business model. Saya rasa di Indonesia ini, inovasi business model memiliki peluang yang bukan main banyaknya. Inovasi dalam bidang teknologi mungkin membutuhkan banyak alat-alat canggih yang kemungkinan besar belum dimiliki Indonesia. Inovasi proses mungkin membutuhkan research yang lebih lanjut. Inovasi produk/jasa mungkin membutuhkan biaya yang tidak kecil. Inovasi business model lah yang menurut saya paling sederhana dari segi faktor-faktor pembentuknya, hanya membutuhkan ide dan kreativitas! Terlihat sederhana tetapi sebenarnya sangat menguras otak mahasiswa. Business model yang kita buat tanpa modal apapun bisa kita jual kepada pihak yang membutuhkan. Dengan sekejap kita dapat memiliki penghasilan sendiri! Dapat dipastikan, untuk ke depannya mahasiswa dituntut untuk semakin berpikir kreatif karena era globalisasi sudah dan akan semakin berat untuk dihadapi, seperti kata Thomas L. Friedman dalam bukunya yang berjudul The World is Flat yang menceritakan tentang era globalisasi 3.0.

Mahasiswa Indonesia dengan akal pikiran, kreativitas, dan sumber dayanya yang berlimpah sangat mendukung inovasi-inovasi yang dapat mereka ciptakan. Tetapi satu penghambat mahasiswa Indonesia, support dari orang-orang di sekitar terkadang membuat kreativitas mereka tertahan dan menghilangkan opportunity yang mungkin didapatkan. Masih banyak orang tua Indonesia yang berpikiran konservatif. Misalnya saja, orang tua mengharuskan anaknya masuk fakultas kedokteran, padahal anaknya sama sekali tidak menyukai dunia medis dan sebenarnya mempunyai passion di bidang IT. Sangat berbeda bukan? Kasus seperti ini, sering sekali saya dengar di dunia nyata. Saya bersyukur karena kedua orang tua saya mendidik anak-anaknya dengan cara yang liberal tetapi tetap bertanggung jawab. Justru cara seperti ini membuat kami sebagai anak-anaknya,menghargai kebebasan yang diberikan dan dapat memilih apa yang kami sukai serta menjalankannya dengan senang hati. Walaupun apa yang menjadi pilihan kami tersebut tidak semuanya benar, justru itu menjadi pengalaman hidup yang berharga, bukan hanya sekedar kegagalan belaka. Selain orang tua, dukungan lingkungan sekitar, semisal universitas juga sangat berpengaruh. Sudah selayaknya universitas menjadi media berkreasi bagi para mahasiswa dalam menyalurkan ide-ide mereka. Menurut pendapat saya, universitas di Indonesia masih terlalu rigid dan konservatif dalam menjadi media kreasi para mahasiswanya. Rata-rata universitas-universitas di Indonesia, terutama universitas negeri, masih terlalu terikat dengan kepentingan pemerintah atau pihak yang berada di atas mereka. Pemerintah sebagai pengatur regulasi negara, terbukti sangat berpengaruh dalam kontrol kreativitas dan inovasi mahasiswa. Sering kali, ide brilian mahasiswa ‘dikekang’ karena dikhawatirkan dapat menjadi boomerang bagi pihak pemerintahan. Jika kita ingat-ingat lagi kejadian tewasnya salah satu mahasiswa Indonesia di Singapura secara tiba-tiba, disinyalir memang merupakan kematian ‘yang disengaja’, bukan sekedar jatuh dari lantai atas seperti yang banyak diberitakan media massa. Diberitakan bahwa anak tersebut berhasil membuat sistem IT yang ternyata membongkar rahasia negara Singapura dan ini dianggap sebagai ancaman besar bagi kestabilan negara tersebut. Saya yakin kejadian seperti ini pasti pernah pula terjadi di Indonesia, mungkin tidak sampai terjadi pembunuhan. Pointnya adalah memang harus ada batasan mengenai kreasi dan inovasi apa saja yang dapat diciptakan seorang mahasiswa, tetapi bukan berarti dengan cara mengekang kebebasan berkreasinya.

Solusi-solusinya yang dapat dipertimbangkan adalah dengan membuka pikiran orang tua zaman sekarang terhadap dunia dan anak-anak mereka, menyadari bahwa peranan mereka dalam pembentukan karakter anak-anak mereka sangatlah besar.

Universitas diharapkan membuat lebih banyak media berkreasi bagi mahasiswa. Bisa yang besifat formal maupun non formal, edukatif ataupun sosial. Yang pasti mahasiswa dapat menyalurkan ide-ide mereka dalam aktivitas-aktivitas yang positif.

Lebih lagi peranan pemerintah. Pemerintah sebenarnya memegang kendali yang sangat kuat dalam masa depan generasi muda. Bagaimana jika kegiatan-kegiatan kenegaraan banyak melibatkan pemerintahan? Misalnya saja, mahasiswa yang menyukai hewan dan mencintai lingkungan, dapat didaulat sebagai duta-duta bangsa yang bertugas melindungi flora flauna langka Indonesia dan melestarikan alam Indonesia yang indah. Pada akhirnya, para mahasiswa ini akan mengeluarkan kreativitas berpikirnya dalam menjalankan tugas mereka, dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada, dan dalam membangun Indonesia menjadi negara maju. Contoh lain, bagi mahasiswa yang berkuliah di bidang pariwisata atau mungkin mempunya hobi travelling, bisa saja didaulat menjadi duta bangsa untuk membuat perencanaan pengelolaan daerah pariwisata Indonesia bagi turis asing dan domestik. Bagaimana mereka dengan caranya yang ‘fresh’ dapat memberikan kontribusi nyata agar Indonesia dikenal di mata dunia.

Kesimpulannya, KEBEBASAN adalah kunci utama dari berkembangnya kreativitas dan inovasi para mahasiswa. Lebih tepatnya, kebebasan yang bertanggung jawab. Jika diberi kebebasan seperti ini, seharusnya mahasiswa dapat menggunakan kebebasan bertanggung jawabnya tersebut dengan sebaik mungkin. Di lain sisi, orang tua, universitas, pemerintah, serta pihak-pihak lain yang dapat mendukung kreativitas manusia juga harus mulai percaya bahwa mahasiswa dapat menggunakan dengan baik kebebasan yang akan diberikan kepada mereka.