Inspire! Satu kata setelah ikut kelas creativepreneur with Ridwan Kamil. Sejak pertama dapet kuliah guest lecture beliau di mata kuliah Entrepreneur, saya langsung jatuh hati dengan originalitas dan kreativitas beliau. Nah, jadi semangatlah saya pas tau bisa dapet kuliah dari beliau lagi, ditambah kali ini bertema creativepreneur. Walaupun kuliahnya hari Sabtu jam 10 pagi (dimana biasanya libur dan pasti masih santai-santai di depan TV), berangkatlah saya ke Comlabs ITB demi mengikuti kuliah tersebut dan Alhamdulillah kuliahnya ‘berisi’ dan sangat menginspirasi. Berikut lesson learned yang saya dapet dari kuliah tersebut :

Kunci sukses seorang creativepreneur : Talent, Tolerant, Technology

   The Future Will be Ruled by Right Brainer – Daniel Pink

Dalam global crisis seperti sekarang, banyak perusahaan besar dunia yang terancam collapse. Menurut Ridwan Kamil, sebaiknya para generasi muda Indonesia mulai berpikiran untuk membuka small innovative enterprise yang income dan profitnya bisa menyamai big fat coorporation. Apalagi didukung oleh banyaknya sumber daya manusia di Indonesia, sekitar 240 juta jiwa.

Being creative entrepreneur :

  1. Innovative thinking & innovating outside the box
  2. Risk taker (calculated)
  3. Visionary (setting achieveable goals)
  4. Strong leadership (setting example, motivating others)
  5. Problem solver (know exactly how to get there)
  6. Agent of change (in developing world)

How to start ?

1. Observe. Bagaimana? Dengan cara membaca dunia. Hanya orang yang pergaulannya luas yang bisa melihat berbagai macam peluang. Sekarang ini peluang-peluang bisa didapat dari social media, membaca buku, travelling, dan tentu saja memperbanyak networking

Who’s your city? What does it mean?
Telah menjadi tren masyarakat dunia saat ini, melihat peluang dengan cara menentukan di kota mana mereka akan berbisnis, bukan memulai suatu bisnis di kota mana. Jadi, mulailah berpikir di kota X membuat bisnis Y, bukan membuka bisnis X di kota Y.
2. Select. Memilih bisnis yang kita ingin dan mampu jalankan. Untuk bisnis di bidang Creative Economy, terdapat beberapa kategori, antara lain :
  • Advertising
  • Architecture
  • Arts & Antiques
  • Crafts
  • Design
  • Fashion (menurut majalah Swa, market share di Indonesia mencapai 7 triliun Rupiah)
  • Film & TV
  • Interactive leisure
  • Product

Creative Business dapat dibagi menjadi :

  • Creative service
  • Creative product

Menjadi kreatif tidak harus selalu menciptakan produk yang benar-benar baru, tetapi juga bisa menambah value pada produk yang sudah ada. Maka dari itu produk kreatif dibagi dua golongan : brand new product dan added value product

3. Think different. Bagaimana caranya? Dengan mencari perspektif di luar kebiasaan.

Misalnya saja, tren bisnis saat ini cenderung menciptakan cerita dalam suatu produk. Customer biasanya lebih tertarik membeli produk yang mempunyai ‘kisah’ di belakang pembuatan atau penjualannya. Ridwan Kamil sendiri berhasil membuat lampu yang dibuat dari botol-botol bekas You C 1000 menjadi sangat laku. Selain memang karna design dan material produknya yang sangat kreatif dan inovatif, ternyata beliau bekerja sama dengan Yayasan Kanker Payudara Indonesia. Jadi, membeli lampu tersebut sama saja dengan menyelamatkan 2 wanita yang terkena kanker payudara. ‘Cerita’ ikut andil dalam penyelamatan penderita kanker payudara lah yang semakin mendorong ketertarikan konsumen dalam membeli produknya.

4. Making plan. Membuat perencanaan yang sesuai dengan pencapaian target bisnis kita.

5. Scalable. Bisnis yang kita buat harus dapat diukur besarnya, jangka waktu pengembalian modal, pencapaian profit, dan lain sebagainya.

6. Design/technology. Buat diferensiasi produk dari segi desain maupun teknologi. Design excellence = better economic prospect

7. Networking. Perluas jaringan networking kita mulai dari sekarang.

8. Innovative marketing. Penting dalam menghadapi kompetisi bisnis.

In the end ………………….

THE FUTURE BELONGS TO CREATIVE ENTREPRENEURS!