Pada suatu zaman, seorang ratu yang tersohor karena kecantikannya sangat menyukai lelaki tampan bernama Muhammad. Diam-diam, ia menemui pujaan hatinya tersebut di sebuah gua. Tak disangka, Isaac Newton, suami sang ratu, mengetahui perbuatan istri tercintanya dan sangatlah murka dibuatnya. Isaac membangunkan raga Jesus dan memerintahnya membuntuti sang ratu. Dengan ogah-ogahan, Jesus bangun dan langsung melaksanakan perintah Raja Isaac. Eh, karena masih melindur, alih-alih pergi ke gua, Jesus malah mendatangi tempat dimana Budha bersemedi.

Budha yang sedang asyik bersemedi merasa terganggu dengan kedatangan Jesus. Ia tidak terima dan mengadu kepada Confucius, sahabatnya. Confucius tidak mau cari masalah, ia memilih bersikap netral. “Sudahlah, kita senam saja yuk, bareng-bareng Saint Paul juga”, ujarnya kepada Budha. Budha uring-uringan mendengar reaksi sahabatnya, kemudian ia berencana menenangkan diri dengan mendatangi Tsai Lun, designer baju favoritnya. “Hai Tsai Lun, buatkan aku baju kertas paling trendy di dunia ini!”, perintahnya. Tsai Lun tampak ketakutan mendengar nada suara Budha, tetapi ia tetap enggan membuatkan baju untuk pelanggan setianya ini. “Argggggggggh ada apa dengan dunia ini?!!!!!!”, keluh Budha. Dengan emosi yang semakin memunjak, Budha memutuskan menemui Johan Guttenberg dan mengajaknya balapan. Guttenberg yang sedang seru-serunya bergosip sembari menikmati cemilan bersama Christopher Columbus, kontan menolak ajakan Budha. Emosi Budha sudah sampai ke ubun-ubun, karena penasaran mengapa semua orang menjauhinya, ia pun mendatangi dukun tersohor masa itu, sesepuh Einstein. “Sesepuh, ada apa ini sebenarnya? Mengapa semua orang menjauhiku?”, tanya Budha. Sesepuh Einsten menjawab,”Ah, berisik kau anak kecil! Awak itu sedang sebel sama si Pasteur! Kau lagi datang hanya untuk mengadu!”.

Budha semakin kebingungan dengan semua kejadian yang dialaminya. Aha! Tercentuslah sebuah ide. “Baiklah, begini sesepuh, bagaimana jika aku selesaikan permasalahmu dan kau jawab pertanyaanku?”, tawar Budha. Einsten setuju dengan penawaran Budha, lalu ia mulai menceritakan permasalahan yang sedang dialaminya. “Ya, jadi begini anak muda, awak kesal sekali sama si Galileo Galilei itu, ia mendobelkan rahasia besar perdukunan abad ini! Dasar tak tahu malu!”, umpatnya. “Memangnya apakah rahasia besar itu, wahai seepuh?”, tanya Budha. “Ya, jadi begini, awak-awak ini, para dukun sepuh harus memakan timbel basi buatan Aristotle setiap jam 12 malam, ya untuk menambah kesaktian sajaaa..Hmm kalau kau bisa membuat Galilei tutup mulut, awak akan memberi jawaban yang kau inginkan!”kata Einsten dengan penuh kepastian.

Di perjalanan pulang, Budha terus menerus memutar otaknya dan tercetus ide yang menurutnya brilian. Ia mendatangi kantor Euclid dan memerintahnya menyebarkan fabel yang isinya menceritakan kebohongan Galilei, hmm yang sebenarnya fakta tersebut. “Kau harus melaksanakannya Clid, ini perintah Raja”, Budha berkata dengan sangat yakin. Mendengar kata raja, Euclid takut dan segera melaksanakan perintah Budha. Selepas dari kantor Euclid, Budha mengecek ketersebaran fabel tersebut. Ia menghampiri tukang mebel bernama Moses dan menanyakan apa yang ia ketahui tentang fabel yang sedang beredar di masyarakat. Jawaban Moses sesuai dengan harapan Budha. Belum cukup yakin, ia menghampiri tukang tambal ban bernama Charles Darwin dan menanyakan hal yang sama. Darwin pun memberikan jawaban serupa, layaknya Moses. Fabel palsu telah tersebar! Budha senang sekali dibuatnya.

Budha kembali mendatangi sesepuh Einstein yang saat itu sedang bersama istrinya yang hobi sekali memakai perhiasan bejubel, Shih Huang Ti namanya. “Bagus kali kerja kau, Bud!”, teriak Einstein girang. “Awak akan memberi janji awak. Jadi begini nak, orang-orang pada pegi menjauhi kau karna si Jesus itu sedang disuruh Raja membuntuti istrinya yang coba-coba berselingkuh. Orang-orang pikir kaulah selingkuhan Ratu dan mereka tidak mau mencari masalah dengan Raja”, sambung sesepuh Einstein. Budha tercengang mendengar penjelasan Einstein.

Mengumpulkan segenap keberaniannya, Budha pergi ke kerajaan untuk menemui Raja Issac. “Raja aku datang bukan untuk menentangmu, aku.. ak…akuuu tidak pernah berselingkuh dengan Ratu, wahai Raja. Label yang diberikan orang-orang kepadaku sepenuhnya salah, wahaaai.. wahaaai Raj.. Rajaa”,kata Budha dengan suara bergetar. “APA?! Jadi selama ini Jesus belum memenuhi tugasnya! Baiklah,aku memohon maaf untuk semua kesalahpahaman ini!” kata Raja. “Kau, Augustus Caesar, bersihkan segera label buruk orang ini dan cepat panggil Jesus untukku!” tambahnya. Dengan tergesa-gesa, Caesar mencari Jesus. Ia menemukan Jesus sedang enak-enak memakan sambel terasi buatan koki kerajaan, Nicholas Copernicus. “Heh, Jes, kau diperintahkan segara menghadap Raja Issac!”, kata Caesar. “Halah! Berisik sekali kau dan si Isaac ini! Aku ini Tuhan. Aku yang menciptakan kau dan juga si Issac! Sudah sana! Lebih baik di dapur saja deh menyantap masakan-masakan lezat Antoine-Laurent Lavoisier” kata Jesus dengan santainya.

Advertisements